Sabtu, 03 November 2018

CERPEN hantu sarung

Hantu Sarung
Oleh: Moh Andhika R.Z

            Pagi sejuk nan dingin di sebuah bangunan bersejarah, yang dimana di sana canda tawa, suka duka berawal. Zaky yang merupakan seorang santri disana, sedang tertidur pulas, tenggelam di dalam mimpi indahnya.
            “TEEEET...TEET....TEEEETTT!!!!!”.
            Bel asrama, yang mayoritas penduduk pesantren menjulukinya sebagai “trompet sangkakala”. Berbunyi melengking ke seluruh penjuru pesantren, membuat beberapa santri terperanjat.
            JDAR...JDAR...JDAR...!!!!”
            Lemari kayu tak bersalah pun jadi korban pemukulan demi membangunkan para santri yang masih tertidur di atas kasur tipisnya, termasuk Zaky yang masih belum sadar kalau sang penegak keadilan sedang memukul lemari kayunya, agar menghasilkan suara melengking bin cempreng yang memekakkan telinga, tapi percuma. Zaky masih tertidur pulas, suara tersebut tidak berpengaruh sama sekali, sampai akhirnya sebuah tongkat sapu melayang ke arah pahanya.
            “Bukh.... AADDDAAAWWW!!!!”. Al hasil Zaky pun langsung tebangun sambil menghelus-elus pahanya yang terasa sangat panas itu.
            “Oke... abis ini saya tunggu lima menit, kalian semua sudah harus ganti baju dan keluar dari kamar, karena sebentar lagi sudah mau adzan subuh...”. ucap akh Ridho selaku bagian pengajaran yang terkenal dengan keganasannya.
            Lima menit di pesantren bagaikan setengah menit di hitungan jam aslinya, dan sepuluh detik di pesantren bagaikan satu menit di jam aslinya. Dan hal semacam ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang belum bisa di jawab oleh siapa pun, terutama bagi seorang Zaky yang merupakan seorang santri kelas empat aliyyah yang acap dijuluki sebagai kamus berjalan oleh beberapa penegak bahasa di pesantrennya.


            Dengan secepat kilat Zaky mengganti bajunya bersiap untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah, tapi tetap saja aksinya itu berhasil dikalahkan dengan akh Ridho yang langsung menghitung mundur dari angka 10. Tidak ingin mengambil resiko dengan memberi makan tongkat sapu dan pahanya sebagai santapan empuknya, Zaky langsung memakai peci, baju koko, dan sarung yang tidak sempat dilipat nya, sehingga ia harus memegang sarungnya itu sampai turun dan keluar dari dalam asramanya itu.
            Tapi sialnya, sesampainya Zaky di bawah, ia melupakan sesuatu, sesuatu yang amat penting untuk perjalanannya.
            “Aduh... sandal aku ketinggalan di kamar lagi...” Gumamnya sambil menepuk jidatnya pelan. Dan akhirnya tongkat maut pun tidak bisa dielakkan. Mungkin pagi, hari ini tidak sedang berpihak dengannya.
            Yah, begitulah pagi hari yang dialami Zaky setiap harinya, tapi tidak hanya Zaky, bahkan seluruh santri di sini juga sudah pernah mengalaminya, karena di setiap pagi buta olahraga pun menyambut mmereka.
                                                            _____________
            “shalat subuh udah... mandi udah... daftar pelajaran udah....hmmm....” Zaky terlihat sedang memikirkan sesuatu, setelah merasa kalau semua urusan eksternalnya sudah beres, dan sekarang Zaky beralih untuk menyelesaikan urusan internalnya, yaitu.
            “pergi bareng yuk...” ajak Zaky ke Yahya yang sedang memakan gorengan bakwan yang sempat viral permanen di pesantrennya, yaitu bakwn pak Edi yang dahulu, sewaktu Zaky masih kelas satu di pondok, ukuran bakwannya masih terlihat besar dan harganya yang terjangkau yaitu Rp 1000. Tapi sekarang, semakin bertambahnya tahun, ukuran bakwan pak Edi yang dahulunya berukuran besar kini kian menciut menjadi lebih kecil dan harganya pun  masih tetap sama, yaitu Rp 1000 yang entah kenapa menjadi terasa mahal.
            “emangnya udah bel???”  tanya Yahya lugu.
            Zaky menoleh ke belakang sejenak.
            “belum sih, tapi aku mau sekalian sarapan di kedai lontong di dekat kampus satu itu lho... yang katanya enak banget...” tuturnya semangat.

            “sayang sekali...” Jawab Yahya cepat dengan suara yang sedikit dipelankan.
            “lho kok gitu?” tanya Zaky penasaran dengan ekspresi Yahya yang berubah drastis.
            “kan kamu tau juga Jek... sekarang ini lagi tanggal tua...” jelasnya pasrah.
            Ijek, itulah panggilan Zaky, karena menurutnya sendiri Zaky sudah terlalu mainstream, kalau dihitung, nama Zaky sudah tersebar luas di pekarangan pondoknya. Kalau dihitung dari kelas terendah hingga kelas tertinggi nama zaki sudah mencapai angka 12, jadi Zaky pun mengumumkan ke seluruh teman seperjuangannya untuk memanggilnya dengan julukan ”IJEK”.
            Dan kebetulan pada akhir bulan, penduduk pondok menyebutnya dengan julukan tanggal tua, tapi tidak dengan Zaky karena ia malah merasakan sebaliknya, Akhir bulan adalah tanggal muda baginya dan pertengahan bulan adalah tanggal tua baginya.
            “ah... nggak usah dipikirin, soal bayar membayar biar aku aja yang tanggung...” Bantah Zaky dengan mengibaskan tangannya ke arah Yahya.
            Seakan ada malaikat yang menolong, Yahya langsung mendongakkan kepalanya denga wajahnya yang sudah berseri-seri
“beneran nih...?!” tanya Yahya meyakinkan.
“apa sih yang enggak untuk sahabat sejati..!” jawabnya cepat.
Sehingga pada pagi itu Yahya dan Zaky menuju ke kampus satu bersama.
            Pondok pesantren yang dianutnya sekarang ini merupakan yang tertua di kotanya, pondok yang terdiri dari 3 kampus, kampus satu yang terdiri dari satu buah gedung kelas yang hanya digunakan oleh santri aliyyah saja, dan kampus dua yaitu gedung kelas dan asrama yang hanya digunakan oleh santri putri saja, dan yang terakhir yaitu kampus tiga yaitu gedung kelas untuk santri putra tingkatan tsanawiyyah dan gedung asrama yang sudah pasti hanya untuk santri putra saja.
            Sesampainya Zaky dan Yahya di kedai lontong “Bu Sri” Zaky pun langsung mengambil tempat yang berhadapan langsung dengan kolam ikan lele yang dimana di sana terdapat sebuah jamban tempat para warga setempat membuang tinjanya yang nantinya akan menjadi santapan empuk bagi para lele-lele gemuk di sini, memang terlihat menjijikan , tapi inilah kehidupan para santri, harus menikmati hidup, bagaimana pun pahitnya hidup itu.
            Yahya yang tadi sedang memesan dua piring lontong yang dibuat langsung oleh bu Sri, yaitu sang koki legendaris lontong, yang sudah mendirikan usahanya itu sejak indonesia merdeka.
            Zaky memandang Yahya yang sedang memakan lontongnya itu dengan ganas, lalu ia tertawa kecil sambil memegang pundak sahabatnya itu.
            “yahya... kamu tuh kalau makan rakus bener....” ucap Zaky memperingati.
             “ Abisnya aku laper banget...”
.           “tau nggak... ada hadis riwayat dari Bukhari yang di sana menjelaskan kalau ketergesa gesaan itu adalah perbuatan setan...” tutur Zaky menasehati Yahya yang sudah tertegun.
            Setelah lama berbincang-bincang tidak terasa rasanya lontong pun ludes.
            “yuk ke kelas.... kebetulan hari ini guru matematikanya nggak hadir jadi kita bisa leluasa bercerita tentang si Bujang yang katanya sewaktu dia piket malam ketemu hantu gitu kayak pocong tapi yang anehnya si pocong nggak pakai kain kafan warna putih melainkan pakai sarung bercorak kotak-kotak warna coklat”.Jelas Yahya.
            “ah... jangan ngaco kalo ngomong mana ada pocong pakai sarung...”
            Kemudian mereka berdua menuju ke kelas yang terletak di sayap kiri bangunan.
            Di sana para petinggi-petinggi kelas 4 yaitu Wahyu, Tama, Dif, Ferdy, Arie, dan Mohza sudah mengerubungi si Bujang dengan nama aslinya yaitu Raihan, kenapa di panggil dengan sebutan Bujang, nasibnya sama dengan Zaky, karena nama mereka sudah obral di pesantrennya. Dan si bujang ini juga terkenal dengan kemampuan langkanya yang tidak dimiliki oleh anak luar SMA sana, yaitu kemampuan tidurnya yang bejangka sangat lama.
            tidur adalah kebutuhan
            Itulah kata-kata mutiara yang selalu dikenang oleh para kelas empat. Si Bujang mampu tidur di mana saja seakan akan ia adalah spesies langka perkawinan silang antara bunglon dan koala.
            “Jang... emangnya benar ya... kita denger dari kabar burung setempat, kalau kamu ketemu hantu kayak pocong tapi warna nya coklat dengan corak kotak-kotak loreng?” tanya Wahyu penasaran.
            “ya begitulah tapi-“
            “HALAAH... cerita bohong itu,,, mana ada pocong warna coklat kayak gitu apalagi kayak sarung...”Bantah Zaky.
            “eits... mungkin aja, waktu dia meninggal, kain kafanya abis, truss diganti dech pakai sarung...”potong Ferdy asbun.
            “kalau pakai sarung berarti bukan pocong dong..?” ucap Dif.
            “H..A..N..T..U......S...A..R..U..N..G...!” bisik Arie pelan membuat para petinggi melihat ke arahnya.
            “ehem... sebenarnya itu bukan hantu...” jawab Si Bujang hati-hati.
            “lah truss?” tanya mereka secara bersamaan.
            “waktu itu sebenarnya si Abdul sedang ngambil buah sirsaknya di atas pohon katanya sih diperam, tap anehnya dia ngambilnya malam malam, pakai sarung lagi... jadi waktu itu aku lagi jalan ke belakang pondok, truss nampak ada sarung di atas pohon goyang goyang.... dan orangnya itu nggak keliatan, yaa... kalian tahu aja kan si Abdul orangnya nggak keliatan kalau di malam hari...” jelas si Bujang.
            “lah... apa hubunganya dengan hantu sarung...?” tanya Zaky.
            “karena waktu itu aku teriak-teriak... kenceng banget... jadi orang yang masih bangun ngeliat kalau aku sedang ketemu hantu di atas pohon.... dan menurut para saksi mereka juga meliahtnya tapi cuman sarung yang melayang layang di atas sana...” jelas nya lagi.
            “YAHHH.... kirain hantu beneran taunya si Abdul...” protes mereka secara bersamaan.
            “yaudah jangan ribut... jadi intinya gini... kita nggak boleh langsung percaya yang beginian.... kita positive thinking aja, lagian kalian tadi langsung motong penjelasan dari si Bujang, jadi kan nggak tau faktanya....” jelas Zaky santai.

CERPEN hantu sarung

Hantu Sarung Oleh: Moh Andhika R.Z             Pagi sejuk nan dingin di sebuah bangunan bersejarah, yang dimana di sana canda tawa,...