Hantu Sarung
Oleh: Moh Andhika R.Z
Pagi sejuk nan dingin di sebuah
bangunan bersejarah, yang dimana di sana canda tawa, suka duka berawal. Zaky
yang merupakan seorang santri disana, sedang tertidur pulas, tenggelam di dalam
mimpi indahnya.
“TEEEET...TEET....TEEEETTT!!!!!”.
Bel asrama, yang mayoritas penduduk
pesantren menjulukinya sebagai “trompet sangkakala”. Berbunyi melengking ke
seluruh penjuru pesantren, membuat beberapa santri terperanjat.
“JDAR...JDAR...JDAR...!!!!”
Lemari kayu tak bersalah pun jadi
korban pemukulan demi membangunkan para santri yang masih tertidur di atas
kasur tipisnya, termasuk Zaky yang masih belum sadar kalau sang penegak
keadilan sedang memukul lemari kayunya, agar menghasilkan suara melengking bin
cempreng yang memekakkan telinga, tapi percuma. Zaky masih tertidur pulas,
suara tersebut tidak berpengaruh sama sekali, sampai akhirnya sebuah tongkat
sapu melayang ke arah pahanya.
“Bukh.... AADDDAAAWWW!!!!”. Al hasil
Zaky pun langsung tebangun sambil menghelus-elus pahanya yang terasa sangat
panas itu.
“Oke... abis ini saya tunggu lima
menit, kalian semua sudah harus ganti baju dan keluar dari kamar, karena
sebentar lagi sudah mau adzan subuh...”.
ucap akh Ridho selaku bagian pengajaran yang terkenal dengan keganasannya.
Lima menit di pesantren bagaikan
setengah menit di hitungan jam aslinya, dan sepuluh detik di pesantren bagaikan
satu menit di jam aslinya. Dan hal semacam ini merupakan sebuah pertanyaan
besar yang belum bisa di jawab oleh siapa pun, terutama bagi seorang Zaky yang
merupakan seorang santri kelas empat aliyyah yang acap dijuluki sebagai kamus
berjalan oleh beberapa penegak bahasa di pesantrennya.
Dengan secepat kilat Zaky mengganti
bajunya bersiap untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah, tapi tetap saja
aksinya itu berhasil dikalahkan dengan akh Ridho yang langsung menghitung
mundur dari angka 10. Tidak ingin mengambil resiko dengan memberi makan tongkat
sapu dan pahanya sebagai santapan empuknya, Zaky langsung memakai peci, baju
koko, dan sarung yang tidak sempat dilipat nya, sehingga ia harus memegang
sarungnya itu sampai turun dan keluar dari dalam asramanya itu.
Tapi sialnya, sesampainya Zaky di
bawah, ia melupakan sesuatu,
sesuatu
yang amat penting untuk perjalanannya.
“Aduh... sandal aku ketinggalan di
kamar lagi...” Gumamnya sambil menepuk jidatnya pelan. Dan akhirnya tongkat
maut pun tidak bisa dielakkan. Mungkin pagi, hari ini tidak sedang berpihak
dengannya.
Yah, begitulah pagi hari yang
dialami Zaky setiap harinya, tapi tidak hanya Zaky, bahkan seluruh santri di
sini juga sudah pernah mengalaminya, karena di setiap pagi buta olahraga pun
menyambut mmereka.
_____________
“shalat subuh udah... mandi udah...
daftar pelajaran udah....hmmm....” Zaky terlihat sedang memikirkan sesuatu,
setelah merasa
kalau semua urusan eksternalnya sudah beres, dan sekarang Zaky beralih untuk
menyelesaikan urusan internalnya, yaitu.
“pergi bareng yuk...” ajak Zaky ke
Yahya yang sedang memakan gorengan bakwan yang sempat viral permanen di pesantrennya,
yaitu bakwn pak Edi yang dahulu, sewaktu Zaky masih kelas satu di
pondok, ukuran bakwannya masih terlihat besar dan harganya yang terjangkau
yaitu Rp 1000. Tapi sekarang, semakin bertambahnya tahun, ukuran bakwan
pak Edi yang dahulunya berukuran besar kini kian menciut menjadi lebih kecil
dan harganya pun masih tetap sama, yaitu
Rp 1000 yang entah kenapa menjadi terasa mahal.
“emangnya udah bel???” tanya Yahya lugu.
Zaky menoleh ke belakang sejenak.
“belum sih, tapi aku mau sekalian
sarapan di kedai lontong di
dekat kampus satu itu lho... yang katanya enak banget...” tuturnya semangat.
“sayang sekali...” Jawab Yahya cepat
dengan suara yang sedikit dipelankan.
“lho kok gitu?” tanya Zaky penasaran
dengan ekspresi Yahya yang berubah drastis.
“kan kamu tau juga Jek... sekarang
ini lagi tanggal tua...” jelasnya pasrah.
Ijek, itulah panggilan Zaky, karena
menurutnya sendiri Zaky sudah terlalu mainstream, kalau dihitung, nama
Zaky sudah tersebar luas di pekarangan pondoknya. Kalau dihitung dari kelas
terendah hingga kelas tertinggi nama zaki sudah mencapai angka 12, jadi Zaky
pun mengumumkan ke seluruh teman seperjuangannya untuk memanggilnya dengan
julukan ”IJEK”.
Dan kebetulan pada akhir bulan,
penduduk pondok menyebutnya dengan julukan tanggal tua, tapi tidak dengan Zaky
karena ia malah merasakan sebaliknya, Akhir bulan adalah tanggal muda baginya
dan pertengahan bulan adalah tanggal tua baginya.
“ah... nggak usah dipikirin, soal
bayar membayar biar aku aja yang tanggung...” Bantah Zaky dengan mengibaskan
tangannya ke arah Yahya.
Seakan ada malaikat yang menolong,
Yahya langsung mendongakkan kepalanya denga wajahnya yang sudah berseri-seri
“beneran nih...?!” tanya Yahya
meyakinkan.
“apa sih yang enggak untuk sahabat
sejati..!” jawabnya cepat.
Sehingga pada pagi itu Yahya dan Zaky
menuju ke kampus satu bersama.
Pondok pesantren yang dianutnya
sekarang ini merupakan yang tertua di kotanya, pondok yang terdiri dari 3
kampus, kampus satu yang terdiri dari satu buah gedung kelas yang hanya
digunakan oleh santri aliyyah saja, dan kampus dua yaitu gedung kelas
dan asrama yang hanya digunakan oleh santri putri saja, dan yang terakhir yaitu
kampus tiga yaitu gedung kelas untuk santri putra tingkatan tsanawiyyah
dan gedung asrama yang sudah pasti hanya untuk santri putra saja.
Sesampainya Zaky dan Yahya di kedai
lontong “Bu Sri” Zaky pun langsung mengambil tempat yang berhadapan langsung
dengan kolam ikan lele yang dimana di sana terdapat sebuah jamban tempat para
warga setempat membuang tinjanya yang nantinya akan menjadi santapan empuk bagi
para lele-lele gemuk di sini, memang terlihat menjijikan , tapi inilah
kehidupan para santri, harus menikmati hidup, bagaimana pun pahitnya hidup itu.
Yahya yang tadi sedang memesan dua
piring lontong yang dibuat langsung oleh bu Sri, yaitu sang koki legendaris
lontong, yang sudah mendirikan usahanya itu sejak indonesia merdeka.
Zaky memandang Yahya yang sedang
memakan lontongnya itu dengan ganas, lalu ia tertawa kecil sambil memegang
pundak sahabatnya itu.
“yahya... kamu tuh kalau makan rakus
bener....” ucap Zaky memperingati.
“ Abisnya aku laper banget...”
. “tau nggak... ada hadis riwayat dari
Bukhari yang di sana menjelaskan kalau ketergesa gesaan itu adalah perbuatan
setan...” tutur Zaky menasehati Yahya yang sudah tertegun.
Setelah lama berbincang-bincang
tidak terasa rasanya lontong pun ludes.
“yuk ke kelas.... kebetulan hari ini
guru matematikanya nggak hadir jadi kita bisa leluasa bercerita tentang si Bujang
yang katanya sewaktu dia piket malam ketemu hantu gitu kayak pocong tapi yang
anehnya si pocong nggak pakai kain kafan warna putih melainkan pakai sarung
bercorak kotak-kotak warna coklat”.Jelas Yahya.
“ah... jangan ngaco kalo ngomong
mana ada pocong pakai sarung...”
Kemudian mereka berdua menuju ke
kelas yang terletak di sayap kiri bangunan.
Di sana para petinggi-petinggi kelas
4 yaitu Wahyu, Tama, Dif, Ferdy, Arie, dan Mohza sudah mengerubungi si Bujang
dengan nama aslinya yaitu Raihan, kenapa di panggil dengan sebutan Bujang,
nasibnya sama dengan Zaky, karena nama mereka sudah obral di pesantrennya. Dan
si bujang ini juga terkenal dengan kemampuan langkanya yang tidak dimiliki oleh
anak luar SMA sana, yaitu kemampuan tidurnya yang bejangka sangat lama.
“tidur adalah kebutuhan”
Itulah kata-kata mutiara yang selalu
dikenang oleh para kelas empat. Si Bujang mampu tidur di mana saja seakan akan
ia adalah spesies langka perkawinan silang antara bunglon dan koala.
“Jang... emangnya benar ya... kita
denger dari kabar burung setempat, kalau kamu ketemu hantu kayak pocong tapi
warna nya coklat dengan corak kotak-kotak loreng?” tanya Wahyu penasaran.
“ya begitulah tapi-“
“HALAAH... cerita bohong itu,,, mana
ada pocong warna coklat kayak gitu apalagi kayak sarung...”Bantah Zaky.
“eits... mungkin aja, waktu dia
meninggal, kain kafanya abis, truss diganti dech pakai sarung...”potong Ferdy asbun.
“kalau pakai sarung berarti bukan
pocong dong..?” ucap Dif.
“H..A..N..T..U......S...A..R..U..N..G...!”
bisik Arie pelan membuat para petinggi melihat ke arahnya.
“ehem... sebenarnya itu bukan
hantu...” jawab Si Bujang hati-hati.
“lah truss?” tanya mereka secara
bersamaan.
“waktu itu sebenarnya si Abdul
sedang ngambil buah sirsaknya di atas pohon katanya sih diperam, tap anehnya dia
ngambilnya malam malam, pakai sarung lagi... jadi waktu itu aku lagi jalan ke
belakang pondok, truss nampak ada sarung di atas pohon goyang goyang.... dan
orangnya itu nggak keliatan, yaa... kalian tahu aja kan si Abdul orangnya nggak
keliatan kalau di malam hari...” jelas si Bujang.
“lah... apa hubunganya dengan hantu
sarung...?” tanya Zaky.
“karena waktu itu aku
teriak-teriak... kenceng banget... jadi orang yang masih bangun ngeliat kalau
aku sedang ketemu hantu di atas pohon.... dan menurut para saksi mereka juga
meliahtnya tapi cuman sarung yang melayang layang di atas sana...” jelas nya
lagi.
“YAHHH.... kirain hantu beneran
taunya si Abdul...” protes mereka secara bersamaan.
“yaudah jangan ribut... jadi intinya
gini... kita nggak boleh langsung percaya yang beginian.... kita positive
thinking aja, lagian kalian tadi langsung motong penjelasan dari si Bujang,
jadi kan nggak tau faktanya....” jelas Zaky santai.